Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2013

Sebuah Cerita

Nampaknya ada virus baru yang masuk ke dalam kehidupanku, namun bukan virus cinta seperti kebanyakan orang. Aku belum begitu paham dengan yang kini kurasakan. Virus ini membawaku pergi perlahan menjauh dari keramaian, membuatku ingin sendiri, dan pergi ke duniaku sendiri. Di dunia yang hanya aku yang tentukan siapa yang boleh masuk ke dalamnya dan sesuka hatiku untuk mengeluarkan siapapun. Bila hanya selintas, rasanya hal itu akan membuat hidupku bahagia, tapi tidak.

Hal yang selalu ku rasa, aku slalu ingin sendiri, diam tanpa ekspresi. Ada yang hilang dariku. Senyum manisku tak setulus dulu, keramahanku telah digerogoti virus itu. Virus itu pun berhasil membuatku menjadi orang yang membosankan dan menyebalkan (untuk orang2 tertentu). Tuhan.. apa yang sebenarnya terjadi????

Ku merasakan kenyamanan saat ku diam sendiri, saat aku berkumpul dengan orang-orang yang kuinginkan. Aku mulai memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku. Aku menyelami dalamnya hatiku. Hingga kutemukan satu relung di dalam hatiku yang menyimpan jawaban dari semua itu. Aku terdiam.

Jawaban yang kutemukan cukup sederhana, namun memberi akibat yang fatal jika terus dibiarkan. KECEWA, yap.. satu kata yang tidak diharapkan oleh siapapun. Kini kutahu, ada ketidaktulusan dalam diriku. Tapi bukankah itu manusiawi? Setiap orang pasti pernah merasa kecewa. Hanya saja aku terlalu berlebihan menanggapinya.

Mungkinkah aku terlalu terlena dengan kenyamanan duniaku sendiri?
Dunia yang dunia yang hanya kuciptakan untukku dan orang-orang tertentu saja
Hingga aku enggan kembali ke duniaku yang sebenarnya
Dunia yang belum kutemukan kenyamanandi dalamnya.

Senin, 23 April 2012

Seekor Anak Singa


Zaman dahulu, hiduplah seekor singa yang tengah mengandung. Saat ia melahirkan anaknya, singa itu meninggal, namun anaknya selamat. Bayi singa yang baru lahir itu sendiri di hutan belantara. Ia sangat kedinginan. Hingga datanglah rombongan domba menemukan anak singa itu. Ibu domba sangat kasihan melihat singa yang kedinginan itu. Ibu domba itu berniat untuk menolongnya, namun ia berpikir, jika ia besar nanti, ia akan memakan para domba. Ibu doba pun membatalkan niatnya, dan meninggalkan anak singa itu. Namun, tak lama kemudian ibu domba dan rombongannya kembali, ia tak tega meninggalkan anak singa itu. Akhirnya ibu domba itu mengurus anak singa itu.
Seiring berjalannya waktu, singa itu tumbuh besar bersama anak-anak domba yang lainnya. Singa itu tidak memakan para domba. Singa itu telah menjadi bagian dari kelompok domba. Ia tak tahu bahwa ia adalah seekor singa dan ia menganggap bahwa ia adalah seekor domba seperti yang lainnya.
Hingga pada suatu hari, ketika para domba dan singa itu bermain, datanglah seekor serigala. Serigala itu tengah kelaparan dan ia akan menyantap domba-domba itu. Namun, niatnya tertahan ketika ia melihat ada seekor singa di tengah kumpulan domba-domba itu. Karena ia sangat lapar, ia tak peduli dengan hal itu. Akhirnya serigala itu mendekati kumpulan domba.
Para domba sangat ketakutan melihat kedatangan serigala. Ibu domba menyuruh singa untuk mengusir serigala itu, namun anak singa itu hanya diam dan bersembunyi di belakang ibu domba, kareana ia juga ketakutan. Akhirnya sang serigala berhasil menangkap salah satu domba dan membawanya pergi.
Para domba merasa sedih, karena salah satu dari mereka dimakan oleh serigala. Ibu domba pun merasa kecewa kepada singa yang tak bisa mengusir serigala jahat itu.
Hari berikutnya, serigala itu pun kembali untuk menangkap domba lagi. Ibu domba menyuruh singa untuk mengusirnya.
“Ayo nak, mengaunglah agar serigala itu pergi!” Pinta ibu domba kepada singa.
“Tapi aku tidak bisa bu, aku takut.” Jawab singa gemetar.
Akhirnya ibu domba melakukan perlawanan. Ia mencoba menghadang serigala itu. Ia tak mau serigala itu menangkap anaknya lagi.
Sayangnya ibu domba terkena cakaran serigala.
“Tolong ibu, nak.” Pinta ibu domba kepada singa.
Singa itu tak tega melihat ibu domba berlumuran darah. Ia pun mendekati singa itu, dan..
“Mbeee... mbeeee....” sang singa mengembik.
“Haha.. haha...” Tawa serigala kegelian.
“Ternyata kamu itu hanyalah seekor domba yang berwujud seperti singa” Cela serigala.
“Mbeee.. mbeee...” sang singa hanya bisa mengembik.
Serigala pun berhasil mengambil seekor domba dan membawanya pergi.
****
Beberapa hari kemudian, ketika para domba dan singa mencari makan, datanglah seekor singa besar yang ingin memangsa para domba. Namun, niatnya terhenti, ia melihat ada seekor singa di antara domba-domba itu.
Para domba langsung berlari termasuk anak singa ketika melihat kedatangan singa dewasa.
“Tunggu..” Teriak singa dewasa.
Namun anak singa dan domba tidak menggubrisnya, mereka terus berlari. Ternyata perhatian singa dewasa bukan pada domba-domba itu, melainkan pada anak singa itu yang ketakutan ketika melihatnya. Terjadi kejar-kejaran antara anak singa dan singa dewasa. Sedangkan kumpulan para domba sudah tak terlihat lagi.
“Anak singa, berhenti!!” Pinta singa dewasa.
“Tidak, jangan tangkap aku, mbee.. jangan, mbee..” jawab anak singa sambil terus berlari.
Akhirnya anak singa itu pun tertangkap oleh singa dewasa.
“Ampun, mbee.. jangan makan aku, mbee.. aku tidak enak mbe.. tolong.. mbeeee.. mbeeee...” Jerit singa kecil sambil mengembik.
“Aku tidak akan memakanmu, ikutlah denganku.” Kata singa dewasa.
Akhirnya singa kecil menuruti kata-kata singa dewasa agar ia tidak memakannya. Singa dewasa membawa singa kecil itu ke tepi danau.
“Wahai, anak singa. Lihatlah dirimu ke tepi danau ini.” Pinta singa dewasa.
Singa kecil menurut. Ia sangat terkejut ketika melihat bayangan wajahnya di tepi danau. Ia terdiam dan terus memperhatikan bayangan wajahnya dan singa dewasa di air.
“Wajahku sama denganmu.” Ucap singa kecil.
“Iya, nak. Kamu adalah seekor singa seperti aku. Kamu tidak perlu takut kepadaku, aku tidak akan memakanmu, singa tidak akan memakan singa lagi. Mengaunglah nak, karena kamu seekor singa bukanlah seekor domba.”
Akhirnya sang singa kecil mengaung dengan kencang. Kini ia sadar, bahwa ia adalah singa, sang raja hutan. Ia tidak lemah lagi seperti dulu, karena kini ia telah menemukan jati dirinya sebgai seekor singa.

Terkadang kita pun seperti anak singa itu, yang tak mengenal siapa diri kita. Kita tidak tahu kelebihan/potensi yang ada dalam diri kita, karena kita berada di lingkungan yang tidak mendukung. Kita merasa bahwa kita lemah dan tidak memiliki kekuatan apa pun. Tapi sadarlah ada potensi besar dalam diri kita. Maka mengaunglah seperti anak singa itu, sebelum semuanya terlambat.


Kisah seekor Kodok


Teringat cerita tentang seekor kodok yang bisa memanjat tiang 100 meter. Hehe.. Itu hanya sebuah dongeng untuk anak-anak, tapi bukan hanya itu, ada pelajaran penting dari cerita tersebut. Ini dia ceritanya..

Di sebuah tempat (yang pasti tempat kumpulan kodok) akan diadakan lomba memanjat tiang setinggi 100 meter. Tentunya pemenangnya akan mendapatkan hadiah yang sangat besar. Banyak kodok yang tertarik untuk mengikuti lomba tersebut. Walau sebenarnya ada keraguan di hati mereka.
Perlombaan pun diikuti oleh banyak peserta. Ketika lomba itu dimulai, para kodok berlompatan untuk sampai ke tiang yang dituju. Riuh penonton saling menyoraki peserta lomba.
Ketika kodok-kodok berlompatan, seorang penonton berteriak, “Haha, mana mungkin kodok itu bisa sampai ke tiang itu!!!”. Disambung dengan penonton yang lain, “Jangankan untuk memanjat tiangnya, untuk mencapai tiangnya juga belum tentu bisa”. Para penonton terus melontarkan kata-kata ketidakmungkinan yang akan terjadi, “Ga mungkin ada kodok yang menang dalam perlombaan ini!”.
Peserta lomba itu pun berguguran satu persatu, ada yang mengundurkan diri, ada yang berhenti di tengah jalan, dan ada kodok yang hanya terdiam. Mungkin kodok-kodok menyadari perkataan para penonton. Namun, ada juga kodok yang terus melanjutkan perlombaan.
Para peserta lomba pun akhirnya sampai pada tiang yang dituju. Mereka melompat bergiliran menaiki tiang itu.
Sorak penonton pun semakin ramai. “Ga mungkin bisa!”, “Sudahlah menyerah saja”, “Hentikan saja perlombaan ini, hanya membuang-buang tenaga”, para penonton pun bersorak sangat kencang, “Ga mungkin, ga mungkin, ga mungkin!!!”
Para peserta pun menyerah, mereka lelah memanjat tiang itu, tidak pernah sampai ke puncak tiang itu, hanya baru setengah tiang mereka terjatuh lagi. Apalagi mendengar sorak penonton yang menyurutkan semangat mereka, memang tidak mungkin untuk memanjat tiang itu. Namun, ada seekor kodok yang menjadi perhatian penonton, sedari tadi ia tidak menyerah, terus berusaha memanjat tiang itu. Walaupun sorak penonton semakin kencang, tapi dihiraukan olehnya. Kodok itu terus memanjat, satu meter, dua meter, tiga meter, dan akhirnya kodok itu sampai puncak tiang itu. Para penonton dan peserta yang lainya kaget melihatnya, mana mungkin dia bisa memanjat tiang itu. Para penonton sejenak berhenti bersorak yang tak lama diikuti dengan sorak kemenangan.
Sang pemenang pun langsung dikerumuni kodok-kodok yang lain setelah dia turun dari tiang itu. Mereka penasaran mengapa dia bisa memanjat tiang itu. Dan ternyata kodok yang memenangkan lomba itu tidak bisa mendengar (tuli). Selama perlombaan ia tidak mendengar sorak penonton yang meragukannya, kata-kata negatif yang menyurutkan semangatnya. Ia tetap melanjutkan keinginan dengan tekadnya. Dan akhirnya, kini ia menjadi pemenang perlombaan itu.

Cerita yang lucu, mungkin sahabat juga bertanya, “Mana mungkin kodok bisa memanjat?”. Tapi bukanlah itu inti dari cerita tersebut. Namun, lihatlah kodok yang memenangkan perlombaan itu, ia tidak pernah menyerah, ia tidak mendengar kata-kata negatif yang dilontarkan yang akan menyurutkan semangatnya.
“Berlakulah tuli ketika orang berkata padamu bahwa kamu tidak bisa menggapai cita-citamu. Berpikirlah positif, katakan pada dirimu bahwa kamu bisa melakukannya”
Jadi, tetap semangat ya..